Sabtu, 10 Mei 2014

Lelaki Matahari

... malam sudah sangat pahit, sepahit ampas kopi di gelas pak hansip. Rembulanpun mulai sangat pucat setelah hampir semalam penuh memantulkan spektrum warna-warni sang Mentari dari pojok Bumi yang bersebelahan. Sesekali, kokok ayam berterbangan bersama debu angin Subuh berkejar-kejaran dengan sayup Wirid suara Pak Tisna dari moncong Toa Musollah.

Para Ojekmen sudah nongkrong indah di perempatan warung bu Ali. dan, Ojekers sesekali berdatangan menggilir ojekmen sesuai nomor urutannya. pelan dan pasti, silau jingga pagi melompat-lompat kecil di batas cakrawala. Dengan sangat lembut mencoba mengusir dingin malam tadi. sayangnya, untuk kali ini matahari harus bersabar mengusir dingin malam, semalam hujan turun cukup lebat. dingin terbawa pergi bersama angin ojek-ojek ojekmen pagi ini.

Keluar dari pagar dengan gagah pekasa, lelaki matahari...
dengan sangat motonon yang reguler, membaur bersama jakartans. menikmati matahari,macet dan hutan beton ibukota.

---

June 4, 2011 at 9:01am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar