Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2014

JAJAN : MAKAN SIANG BA’DA WISUDA UNDIP

Jika yang datang orangtua ke wisuda, memang tempat ini kurang cocok. Kurang cocok karena sesungguhnya kita mau memberikan terbaik bagi orangtua disaat pencapaian tertinggi dari bangku kuliah.
Tempat ini saya pilih sebab sangat dekat dengan Gedung Prof. Soedarto, Tembalang. Bersemangatnya panas siang Semarang membentuk logika saya agar jangan berlama-lama dibawah teriknya sehingga carilah warung makan terdekat.

Warung Soto Zeiwo. Lokasi gak jauh dari jembatan penghubung dengan gerbang utama Universitas Undip. Harga bersahabat. Rasa Enak. Konsep warung terbuka, cocok bagi penikmat kuliner yang tidak merokok karena banyak pengunjung yang merokok ba’da makan. Ruang yang terbuka menjadikan sirkulasi udara baik.
Soto seperti ini cukup banyak disemarang. Dengan mangkuk agak kecil, nasi dan soto didalamnya. Umumnya soto dan nasi dalam piring dan mangkuk sendiri. Harganya gue lupa hehehe... Terjangkaulah, karena di kawasan kampus dekat dengan kos-kosan.

Senin, 03 November 2014

JALAN: STASIUN PONCOL SEMARANG

Mata saya sudah cukup lelah ketika Kereta BRANTAS yang saya tumpangi sampai Stasiun Poncol Semarang. Selama di dalam kereta kami (Saya dan Renny) menghabiskan waktu dengan ngobrol, kami cukup lama gak berjumpa. Bahkan, buku yang kami bawa tak sempat dibaca, tapi renny rempat baca buku yang dibawa walau sebentar.

Seingat saya, hanya ketika kereta kami sampai Stasiun Poncol Semarang yang disambut dengan lagu dari corong speaker stasiun. Menarik dan cukup menghibur. Stasiun Poncol terkenal khusus penumpang kelas ekonomi dan sebaliknya dengan Stasiun Tawang Semarang. Malam itu rasa rindu dengan Kota Semarang terobati.

Stasiun ini 10 tahun lalu sangat padat oleh penumpang dan pedagang yang berseliweran. Siapa saja bisa masuk kedalam peron. Malam itu sangat tertata, rapih dan bersih.

Saya mengahadiri acara wisuda di Semarang, kemudian lanjut ke Jogjakarta menggunakan Bus dan malam harinya lanjut ke Bandung dengan Kereta Malabar. Sore ke-esokan hari lanjut naik Kereta Parahayangan ke Jakarta.
 

PENGALAMAN LARI MALAM JUMAT DI SEMARANG

"Mlayu Sak Kesele, Kakancan Sak Lawase"

Beruntung ketika saya di Semarang pada hari Kamis malam, karena ketika itu Semarang Runners -- komunitas masyarakat semarang yang gemar kegiatan olahraga lari -- mengadakan kegiatan rutin Playon Kemis Bengi (PKB). Playon dalam bahasa jawa berati "Lari", sudah paham kan kenapa kegiatan ini diberikan nama seperti itu. hehe...

Kegiatan PKB adalah fun run jarak 5 Kilometer. Acara dimulai jam 19.00 dari Balaikota Semarang. Peserta yang hadir kemarin cukup banyak, malam itu Kota Semarang cerah. Sebelum lari, dilakukan pemanasan terlebih dahulu yang dipimpin oleh beberapa "panitia", setelah itu pemanasan dipersilakan sendiri sesuai kebutuhan masing-masing. 

Dibagi menjadi dua grop besar, Group Cinta Damai dan Group Huru-hara.

Group Cinta Damai adalah peserta yang berlari santai, sedangkan Group Huru-hara adalah peminat lari sprint. Start dari Balaikota dimulai dengan Group Cinta Damai, jeda beberapa saat baru Group Huru-hara mulai berlari. Saya masuk Group Cinta Damai. Malam itu saya lari telanjang kaki, karena malas bawa dua sepatu sebab saya harus melanjutkan perjalanan ke Jogja dan Bandung. Jalur Playon Kemis Bengi adalah: start dari Balaikota Semarang - Jl. Gajah Mada - Simpang 5 (Mesjid Simpang Lima) - Jl. Pandanaran - Finish Balaikota. 

Nyaman Barefoot

Barefoot atau nyeker selama PKB saya akui sangat nyaman. Trotoar yang cukup lebar dan bersih memberikan kenyaman pada kulit kaki saya. Kawan saya bercerita bahwa petugas kebersihan Kota Semarang memang rajin. Sempat beberapa Trotoar dipakai oleh Pedagang Kali Lima berjualan, namun hanya beberapa spot saja. Saya menikmati malam itu, dan jujur saja PKB adalah pengalaman pertama saya berlari dengan komunitas. Saya biasa olahraga lari sendiri atau maksimal 4 orang saja hehehe...

Group Cinta Damai dan Group Huru-Hara bertemu di Masjid Simpang Lima. Peserta beristirahat dan menunggu peserta lainnya. Setelah kumpul semua, dilanjutkan dengan berfoto berjamaah di depan Masjid Simpang Lima. Jarak yang ditempuh dari Balaikota - Simpang Lima adalah 3 Kilometer.

Setelah puas foto bareng, dilanjutkan dengan menyusuri Jl. Pandanaran dengan lari bareng atau tidak dibagi menjadi group lari sampai Balaikota.Pandanaran merupakan jalur sibuk di Kota Semarang, harus hati-hati karena kadang ada motor yang berbelok kencang atau mobil yang mundur dari tempat parkirnya.

Sampai balaikota disambut dengan sedus air minum gelas. Sejenak istirahat dan kemudian pendinginan bersama. Tak lupa foto-foto bareng dengan peserta lainnya.

Ohya, sebelum pulang saya di sapa oleh mahasiswa Undip. Saya lupa awalnya setelah dia bercerita pernah belajar di kantor saya. hahaha.. Ternyata dia juga baru pertama kali ikut PKB ini. Jadi, kawan-kawan yang kebetulan ke Semarang pada Malam Jumat dan mau olahraga lari bareng silakan aja dateng jam 19.00 di Balaikota Semarang.

Selain Kemis Malam, Semarang Runners juga ada kegiatan Playon Minggu Isuk artinya Lari Minggu Pagi.

#marilari #ayomlayu

More info tentang Semarang Runners:


Jalur Playon Kemis Bengi

Cah-cah Semarang Runners

Minggu, 26 Oktober 2014

JALAN: VAKANSI UNGARAN SEMARANG 2014 (4)

PUNCAK

aku share pemandangan dari dan di puncak gunung ungaran. nanti ku ceritakan bagaimana pengalaman pendakian disini. terimakasih, salam.






Sabtu, 25 Oktober 2014

JALAN: Vakansi Ungaran Semarang 2014 (3)

Promasan

Desa terdekat dengan puncak gunung ungaran. Siang itu cukup terik di desa ini, samar-samar ketika kaki ku melangkah mendekati desa ini terdengar alunan dangdut campursari. Bisa kutebak, hari ini ada gelaran hajat pernikahan di desa promasan. Sempat aku berpapasan dengan beberapa tamu undangan yang berbaju khas orang kondangan selepas meinggalkan pos pendakian mawar. Sebuah perjalanan kondangan yang penuh dedikasi nampaknya sebab berjalan sebegitu jauhnya. Jika di Jakarta, dedikasi berangkat kondangan dilalui dengan menembuh kemacetan jalanan ibukota.

Aku hanya ingin mandi sore itu. Sore pertama di Ungaran. Udara sore memang sudah sedikit menusuk-nusuk. Tapi, aku ingin mandi. Seperti cerita sebelumnya, ketika itu weekday, ungaran sedang banyak dikunjungi, otomatis antrian menumpuk di kamar mandi.

Pilihan ku adalah mandi di air pancur. Air pancur ini dibangun oleh sebuah bangunan yang terbuka. Lantai yang sudah dikeramik. Setelah memantau dan sempat bertanya, baru kuketahui bahwa khusus lelaki yang boleh mandi disana. aku bertanya kepada seorang anak kecil yang sempat menegurku karena memakai alas kaki ketika masuk ke dalam bagunan ini.

Setelah mandi dialam terbuka, tentu aku mandi dengan pakaian setengah lengkap, cukup menghangatkan badan. Entah, bagaimana penjelasan secara medis bahwa mandi di gunung yang dingin malah bikin badan cukup hangat.

Ada sebuah monumen, berupa candi promasan yang terletak pas disamping bangunan ini. Mungkin dulu memang ada sebuah candi yang bernama promasan di desa ini, entah. Dibalik gunung ini ada sebuah kompleks candi, yang bernama gedong songo. Sebuah lokasi pariwisata yang cukup terkenal di Kota Semarang.
  

Kamis, 23 Oktober 2014

JALAN: Vakansi Ungaran Semarang 2014 (2)

  Pos Pendakian Mawar


Terakhir ke Ungaran tahun 2010. Banyak yang berubah selama 5 tahun belakangan ini. Ungaran bertambah bangunan, bertambah punglinya juga untuk sampai ke pos pendakian mawar ini. Banyak warung berjulanan yang dibangun oleh bilik-bilik bambu. Membeli es teh adalah hal yang tak mungkin jika sampai pos pendakian ini. Ungaran bertambah panas memang.

Jalur pendakian tidak banyak berubah kecuali sangat banyak pendaki yang aku temui. Pendaki yang aku temui ada yang berjalan dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Sesekali aku harus jalan mengular sebab banyaknya peserta pendakian hari itu. Aku lupa menceritakan jika saat itu weekend.

Menikmati perjalanan dengan melihat pohon hijau dan beberapa burung yang sesekali melintas diatas kepala. Tujuan berikutnya adalah desa promasan. Sebuah desa yang terletak di perkebunan teh.

Setengah perjalananku menuju desa promasan ditemani alunan musik. Seorang kawan menyalakan aplikasi musik dari hape-nya. Teknologi memudahkan kita meramaikan suasana yang seharusnya tenang.


Rabu, 22 Oktober 2014

JALAN: Vakansi Ungaran Semarang 2014 (1)

KERETA KELAS EKONOMI

DILAN ~ PIDI BAIQ
Salah satu moda transportasi dari Ibukota Indonesia menuju Semarang dengan naik kerata api. Kesempatan ini saya menumpang KA Brantas. Kereta kelas ekonomi ini sudah sangat manusiawi dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Fasilitas AC, tempat duduk sesuai tiket dan tidak ada pedagang yang masuk kedalam peron apalagi gerbong kereta adalah hal yang tidak mungkin dijumpai 10 tahun lalu.

Rel kereta yang sudah ganda, double track, menghemat perjalanan Jakarta-Semarang menjadi "hanya" 6 jam saja menggunakan kereta kelas ekonomi. KA Brantas berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 16.00 dan tiba di Stasiun Poncol Semarang Pukul 22.20.

10 tahun yang lalu sangat tidak dimungkinkan aku membaca buku didalam kereta kelas ekonomi, jika perjalanan dari rumah untuk ke Semarang atau sebaliknya. Ketika itu gerbong penuh dengan manusia, apalagi jika aku  pulang pada weekend dan musim libur kuliah. Penuh sesak, penuh peluh dan sangat tidak manusiawi. Namun, kemarin berbeda aku dapat membaca buku yang segaja kubeli untuk vakansi kali ini.

Aku tidak bisa tidur dan buku pidi baiq menemani malam itu, entah energi apa yang membuat aku kuat membaca hingga aku sadar bahwa buku hampir tuntas kubaca ketika pukul 21.30. Antara penasaran untuk melanjutkan dan rasa sayang untuk me-sisa-kan bab terakhir untuk perjalanan pulang dari Semarang. Tentunya aku tuntaskan malam itu juga membaca "Dilan".

Sebelum menuju ungaran aku istirahat dan menumpang bermalam di kosan kawan di daerah banyumanik. Melanjutkan vakansi ungaran besok paginya.

Rabu, 22 Januari 2014

Ke Semarang

Begini ceritanya...

Saya pergi menuju Semarang dari Jatinangor, Sumedang. Pilihan moda yang menurut saya mudah adalah Bus karena saya pergi tanpa persiapan --walau bukan berati tanpa niat hehe..

Ada banyak agen bus yang mudah ditemui di pertigaan cileunyi. Pengalaman saya, selama perjalanan Jatinangor-Semarang Bus tidak "angkut" penumpang berdiri. Nyaman. Saya berangkat malam dan sampai Semarang ketika matahari sudah muncul di atas cakrawala. Hujan di bulan Januari sudah biasa dan kebetulan sehingga saya bisa turun Bus di Pintu Tol Tembalang-Undip.

Berjalan menuju Jalan Ngesrep kemudian tujuan saya adalah mengisi perut yang lapar karena perjalanan dan ditambah oleh dinginnya Tembalang oleh hujan di pagi hari. Pilihan saya adalah Kedai Bubur Ayam Pak Brewok yang memang sudah terkenal enak sejak jaman kuliah dulu. Kebetulan Lokasinya tidak jauh dari saya turun Bus.

Minggu, 28 Juli 2013

Dari Semarang Menuju Rock N Roll

SI AMRONK
Begini Ceritanya.

Kami adalah mahasiswa di Kota Semarang. Saya punya motor namun tidak punya kerabat di Jawa dan kawan punya kerabat di Dieng tetapi tidak ada motor. Klop! Kami bersimbiosis mutualisme dalam membakar jenuh.

Karena kawan itu memberikan pengalaman yang seru, maka saya buka identitasnya. Sebut saja Amronk, mahaiswa asal Tanggerang. bagi saya amronk adalah pengendara motor yang sangat mengerti saya sebagai seorang boncengers! 

Selama perjalanan Rock N Roll kami mengendarai Supra X 110 CC, ketika itu moda transport yang sangat bersahabat. masih kuat di pacu kecepatannya dan tidak boros minum premium. Cocok bagi kami yang masih mahasiswa. Berangkat dengan tujuan pertama rumah Kakek dan Nenek Amronk di Wonosobo. Perut kosong selama perjalanan segera terisi oleh makanan khas rumah Kakek dan Nenek Amronk.

Esok hari setelah kami sampai rumah Kakek dan Nenek Amronk segera meluncur ke Banjar Negara untuk melihat Waduk Mrican dan bersilaturahim ke sanak-saudara Amronk yang lain.Seharian kami bersilaturahim dam menikmati waduk yang punya nama lain Bendungan Panglima Besar Soedirman.

Kemudian kami Rock N Roll ke Dieng. Mengasah kemampuan motor dengan medan tanjakan. Menikmati kehidupan masyarakat Dieng. Sembari melupakan sejenak urusan kampus.

Ketika itu Tahun 2009, sedang tenar tentang berita Syeik Puji.

Foto-foto

Senin, 04 Maret 2013

SAM POO KONG

Sebagai Mahasiswa Rantau, Piknik adalah mutlak. Maka saya perkenalkan: Sam Poo Kong! adalah Kuil Tionghoa di Semarang. Sejati memang tempat peribadatan, namun dibuka untuk umum. Terletak di daerah Simongan, Semarang.

Bagi mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, Sam Poo Kong kadang digunakan lokasi refreshing sejenak. Kawasan Kuil Sam Poo Kong yang didominasi warna cerah cukup membuat kami berharap menjadi juga tercerahkan. Berikut kisah saya dalam bentuk visual. Sebagian besar foto saya yang jepret, jika itu gambar saya difoto maka kawan saya yang potret. Sebut saja kawan itu bernama Jay.

Kejadian ini pada tahun 2009, ketika kami sedang berkawan Tugas Akhir.

Foto-foto

Minggu, 08 Juli 2012

SYNDROM TINGKAT AKHIR

Saya menemukan foto ketika Mahasiswa. Mengerjakan Tugas Akhir.

Berikut foto-foto mencoba menggambarkan bagaimana Mahasiswa Tingkat Ahir mengerjakan Tugas Akhirnya. Foto ini diambil di kamar kosan saya dengan model utama yang berkaos merah dongker dan model pendamping kawan yang memakai jaket biru. Foto diambil dengan kamera hape.

Foreground: Sepatu Kuliah dan Basket Baju Kotor saya

Foreground: masih sepatu kuliah saya

Model Utama mencoba menutup identitas. Model pendamping lelah sehabis menunggu dosen pembimbing

Revisi terakhir sampai bosan hingga duduk berjongkok