Senin, 17 Maret 2014

Geotoursm : Apasik?

Piknik Keluarga sedang menikmati singkapan batuan
Kemudian muncul istilah Geotoursm pada tahun 90'an. Geotoursm diartikan kedalam bahasa Indonesia menjadi geowisata. Ada yang pernah mendengar istilah geowisata sebelumnya?

 Apasik Geotourism? 

Saya coba paparkan beberapa definisi yang beredar tentang apasik geotoursm itu.

Istilah geowisata memang tergolong baru. Tersebutlah Dr. Thomas A Hose, seorang ahli Geologi Inggris, yang dipercaya yang pertama mempopulerkan istilah geotourism.
“The provision of interpretive and service facilities to enable tourists to acquire knowledge and understanding of the geology and geomorphology of a site (including its contribution to the development of the Earth sciences) beyond the level of mere aesthetic appreciation” (Hose,1995)

Minggu, 16 Maret 2014

Membiasakan Kebiasaan

Jadi begini...

Yang ingin saya share adalah kebiasaan olahraga. 3 bulan terakhir ini saya aktif olahraga, simple kok hanya lari pagi atau lari sore. Kadang saya bersepeda. Kadang saya renang. Aktif bukan berati saya setiap hari berolahraga, tapi saya mengusahakan minimal setiap minggu. Jarak tempuh olahraga saya juga gak hebat, kalo lari saya baru sanggup 5 kilometer tiap kegiatan, itu juga badan udah berasa mau rontok dan napas putus-putus haha... Saya bekerja dan sedang melajutkan studi, kadang harus atur jadwal agar bisa tetap sinergi kegiatan kerja, kuliah dan bermainnya :)

Saya memutuskan olahraga, niat pertama karena mau mengajak seseorang untuk mengurangi berat badannya. Selama ini saya nyuruh-nyuruh tok dan bergaya memberi motivasi tapi saya gak mengerjakannya dengan rutin. Hingga saya tau adik saya rutin olahraga dan menjaga makanan. Hingga saya tau senior saya di kampus rajin olahraga. Hingga saya tau beberapa kawan saya juga rajin olahraga dan memposting di media sosialnya. Bagi saya mereka yang berbagi kebiasaan baiknya di media sosial bukan sedang ingin riya --sombong.

Minggu, 09 Maret 2014

Krakatau (2) : Menuju Gunung Krakatau


Belum genap tugas Sang Rembulan bertugas, hampir melewati sepertiga malam, saya dan rombongan sudah harus terjaga dan segera menuju dermaga. Berangkat menuju Gunung Krakatau dari Pulau Sebesi harus sepagi mungkin. Ada banyak suguhan alam yang ditawarkan. Tentunya saya tidak ingin melewatkan Sang Surya yang terbangun dan menyinari Semburat Jingga Pagi diatas badan Krakatau.

Nampaknya mesin kapal kami sudah lama panas. Saya hanya bisa melihat lampu kapal dan sedikit jalan dermaga. Dunia masih lelap dan kelam saat itu. Hanya sedikit sinar dari langit. Kemanakah bintang dan cahaya rembulan bermain malam itu? Semoga Nona Mendung tidak datang pagi ini. Doa saya dalam kantuk.

Nelayan Kita


Kapal nelayan yang saya temukan di perairan Lampung Selatan. Keberadaan mereka memberikan bukti bahwa nenek moyang kita pelaut.

Jumat, 07 Maret 2014

Krakatau (1) : Menuju Pulau Sebesi

Dimana Indonesia? Bukan di Bali.
Semoga Dunia tidak melupakan sejarahnya.

Adalah sebuah sejarah ketika teknologi informasi sedang berkembang dengan ditemukannya telegraf bawah laut di planet Bumi ini dan Gunung Krakatau meletus dengan dasyatnya. Sebuah letusan yang menyebabkan perubahan iklim dunia berubah secara drastis selama dua setengah hari akibat abu vulkanik Gunung Krakatau yang menutupi atsmosfer planet ini.

Dengan ditemukannya telegraf bawah laut, dasyatnya letusan krakatau tercatat oleh sejarah manusia pada saat itu. Indonesia menjadi fokus lampu sorot Dunia pada tahun 1883. Sebuah letusan yang 30.000 kali lebih dasyat dari ledakan bom atom di Jepang diakhir Perang Dunia II.

Tahun 2012 saya mendapatkan kesempatan untuk mengenal atau sekedar melihat dan merasakan sisa dari Gunung Krakatau yang tersohor itu. Terletak di tengah Selat Sunda, antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Saya berangkat bertiga dengan adik-adik saya melalui Lampung.

Liat Setan? Awas setan



Menjelang sore, kapal yang saya tumpangi merapat di sebuah pulau yang berada ditengah Selat Sunda. Pulau Sebesi, pulau berpenduduk paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Saya menangkap momen beberapa penduduk lokal dibalik sebuah bangku kayu sedang memperhatikan wisatawan yang baru saja tiba. Bangku itu terlihat "setan" yang ditulis menggunakan cat. Sebenarnya tulisan lengkapnya "Awas Setan".

Rabu, 05 Maret 2014

NASIONALIS

Jadi begini, ada pertanyaan pagi di dalam kepala saya. Apa Nasionalis itu?

Sebagai pelajar adalah hal menyebalkan --bagi saya, ketika itu-- kegiatan senin pagi dan sabtu sore. UPACARA BENDERA. Saya harus jujur, saat itu pernah ngumpet di kantin atau beberapa kawan berpura-pura sakit bobok di UKS. Entah mengapa ketika itu malas sekali berdiri tegap dan hormat ketika Upacara Bendara. Selalu ada hal yang dilakukan untuk iseng dengan kawan. Saya atau mungkin sebagian besar kawan, memang hanya iseng saja. Saling bercanda. Bukannya kami tidak menghormati Negeri ini dengan ledah ledeh pas uapacara bendera. 

Sesuatu yang dipaksakan memang memberikan banyak cara bagi remaja untuk membakar kebosanan paksaan itu. 'tul ga? 

Hampir 12 tahun wajib belajar saya tidak merakan sesuatu yang fantastis ketika bernyanyi Indonesia Raya pas upacara. Apakah kawan-kawan juga merasakan hal serupa?

Hingga suatu pagi beberapa tahun setelah saya terakhir mengikuti upacara bendera, saya berdiri diatas ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Saya berdiri diatas sisa tenaga yang sudah terkuras ketika melakukan pendakian, malam sebelumnya. Di atas puncak Merbabu, Jawa Tengah, semangat hidup saya terisi kembali bersamaan saya membentangkan Sang Saka Merah Putih dengan kedua lengan saya yang bergetar. Menyanyikan dengan lantang Lagu Indonesia Raya. Hari itulah saya merasakan magic moment dari sebuah upacara bendera.

Padahal, kalo dipikir kembali, buat apa saya membentangkan Bendara Merah Putih dengan kedua lengan saya diatas puncak merbabu? Lah, Merbabu kan gunung di Indonesia. Buat apa saya menandai Merah Putih di gunung ini sedangkan Indonesia sudah lama merdeka. Entah, saya ingin saja. Gagah sepertinya :)

Saya pun sering melihat para pendaki gunung yang membentangkan dengan sangat bangga bendera Merah Putih di setiap dokumentasi pendakian mereka. Saya benar ga? hehe..

Adalah para backpaker Indonesia yang berkeliling Dunia dan mendokumentasikan perjalannya dengan foto bersama bendera Merah Putih. Sekarang, saya juga sering melihat para peserta kegiatan marathon yang diadakan di luar negeri. Perhatian semua foto-foto itu, mereka bangga membentangkan bendera Merah Putih.

Satu lagi deh.. pernah merasakan aura membara Gelora Bung Karno ketika pertandingan sepok bola melawan negara tetangga? Jujur saya belum pernah hehe.. Berdasarkan cerita beberapa kawan yang bernah mengalami ditambah cerita adik perempuan saya, katanya CADAS abis! Bahkan mereka menitikan air mata ketika satu GBK menyanyikan Indonesia Raya. Sudah pasti, seperti yang saya liat di tipi, ada bendera merah Putih segede-gede gaban.

so, apakah para pendaki gunung, para peserta marathon dan suporter sepak bola itu Nasionalis?
Apakah mereka pernah boring Upacara Bendera ketika mereka sekolah dulu?

Sekian.
Salam.


Selasa, 04 Maret 2014

NyekerRun!

Jadi begini..

Sebab keteledoran saya lupa membawa sepatu olahraga --bukan sepatu khusus lari memang. Padahal, botol minum sudah terisi penuh, baju ganti pun tak lupa, dan playlist di hp sudah siap. Hari itu istimewa karena saya kedatangan buddy, adik yang sedang pulang kerumah. wah sayang sekali jika tidak jadi lari maka saya memutuskan untuk NyekerRun atau istilah kerennya Barefoot.

Kawasan Universitas Indonesia bisa dibilang ramah lingkungan bagi NyekerRun seperti saya, setidaknya itu yang saya rasakan. Trotoar yang bersih dan memberi rasa aman bagi sikil saya dari ketuncep krikil atau benda tajam yang berbahaya.

Alhamdulillah saya bisa mendapatkan jarak 5K mengelilingi kampus Univ. Indonesia di minggu pagi. 

Senin, 03 Maret 2014

Cewek Paling Badung di Sekolah


Buku ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Elizabeth Allen. Seorang anak tunggal dari pasangan orang tua yang tajiir abis. Tipikal bocah manja yang serba tercukupi membuat Elizabeth badung setengah hidup. Sampai suatu ketika, Elizabeth harus bersekolah di sebuah sekolah yang berasrama.

Bisa diduga jika pada awalnya Elizabeth menolak keras untuk sekolah di asrama dan berjanji pada dirinya akan membuat onar selama ia sekolah tersebut. Bocah badung ini berpendapat jika ia membuat keonaran maka hanya butuh tengah semester saja ia tinggal di asrama dan selanjutnya dikeluarkan dari sekolah tersebut.

Buku karangan Enid Blyton ini membawa pembaca kedalam perjalanan hidup seorang gadis egois yang menemukan sebuah dunia baru di sekolah barunya. Ketika akhirnya Elizabeth menemukan -- tentunya dia memilih sendiri-- untuk bersahabat dengan seorang gadis pemurung bernama Joan membuat hari-hari Elizabeth berbeda. Bahkan persabahatan mereka meubah keseharian Joan yang sedih. Ketika Elizabeth menemukan kesenangan dalam bermain piano dan berkebun menjadi proses hidup yang cukup memberi arti baginya.

Rabu, 26 Februari 2014

Ini (yang) Terjadi

Jadi begini, apapunyang terjadi ketika kamu sedang Tugas Akhir atau Skipsi adalah BEBAS berungkap apapun selama itu bisa menjadi motivasi dalam menghajar itu Tugas Akhir. Disaat semua prokonco sudah merasakan Indahnya Panggung Wisuda lengkap dengan Toga maka (ketika itu) menulis yang saya bacapun sekarang juga binggung.. hah haha


 ***



"...soalnya memang kertas-kertas yang lebih bisa dipercaya. Lebih bisa dipercaya daripada mulut penulisnya sendiri" (Rumah Kaca, Pram).

Kemarin, 5K ke-3

Yap! Kemarin, 25 Februari 2014, adalah genap saya sebulan rutin olahraga lari. Walau gak tiap hari saya lari dan bukan dalam jarak yang fantastis, setidaknya saya bisa istikomah berlari. Kemarin adalah "Dua Bulanan" saya tergerak hati untuk olahraga. Adalah Kemarin 5K lari saya yang ketiga. Kemarin saya  berlari mengelilingi senja Kampus Universitas Indonesia. Kemarin, jujur saja, 5K sudah cukup membuat baju saya basah dan ngos-ngosan tiada tara. Lumayan. Setidaknya saya sudah mencoba, kemarin. Cheers!

Senin, 17 Februari 2014

Totto-chan: Mambaca Dunia Anak

Membaca buku ini di beberapa bab kadang membuat saya jengkel, ada ya tokoh  ibu dan guru sebijaksana dalam buku ini. Apa iya? hahaha...

Saya menikmati buku ini karena Totto-chan, tokoh utama dalam buku ini, menyeret saya masuk kedalam labirin ingatan masa lalu. 

Saya ketika kecil punya banyak cita-cita. Bisa berubah dalam beberapa hari saja, diantara cita-cita saya adalah sesuatu yang sepele seperti:

Ingin menjadi kusir delman --ketika saya kecil, invasi motor bebek belum booming. Moda transportasi pas untuk keluarga adalah delman-- dikarenakan setelah pulang dari rumah saudara menggunakan delman. Hemm... Sepertinya seru sekali bisa nyetir seekor kuda dan membawa keluarga bepergian.

Atau cita-cita ingin menjadi sopir angkot yang keren bisa zig-zag mengendari mobil. Keren.

Ayoo..!! Ayoo... Santaii duluu...


"Ayooo.... Ayooo...."

Hanya dua kata namun cukup memberikan energi positif buat saya, menjadi semangat untuk tetap sadar dan mengayuh sepeda. Weekend ini saya mengayuh sepeda menanjaki sebagian daerah Puncak, Cisarua. Saya baru awal tahun ini "main" sepeda. Terpapar pengaruh adik saya yang kuliah di Jatinangor untuk mengisi waktu minggu pagi kami.

Lanjut cerita "Ayooo.. Ayooo..." tadi.
Saya beruntung diajak kawan kampus untuk ikut kegitan MTB dari kantornya. Persiapan saya untuk MTB ini adalah lari sore 5K dua hari sebelumnya. Berkumpul di Masjid pertigaan Gadog untuk gowes dengan tujuan Curug Panjang. Bersama 21 gowesers lainnya mulai memacu napas tanjakan puncak.

Senin, 03 Februari 2014

Sembilan Sapu

sembilan sapu berdiri tegak. patah diujung atasnya. sembilan sapu patah namun berdiri tegak. ijuk sapu hitam dan sedikit keriting. basah. ijuk sapu sedikit basah dan patah di ujung. berdiri tegak. aku berdiri tegak, sedikit berkeringat. memengang sembilan sapu yang patah semua di ujungnya. sembilan-sembilanya dipegang. dalam genggaman. sembilan sapu berdiri tegak dan sedikit basah diantara para kecoak-kecoak yang terkapar tak bernyawa. delapan ekor diatas lantai kamar mandi. delapan ekor berumur satu tahun,mematahkan ujung sapu sembilan buah. delapan ekor. satu tahun...
---
October 11, 2011 at 11:09pm

Minggu, 02 Februari 2014

Run 2 Remember

Jadi begini...

Saya ikut event lari Run 2 Remember yang diadakan oleh Barisan Pengingat pada tanggal 2 Februari 2014. Adalah kali pertama saya ikut event lari untuk jarak 5K. Alhamdulillah saya berhasil sampai finish walau belum berhasil mendapatkan medali.

dan...
*masih urut betis*
share foto aja dulu yak.

Banjir di Desa Tanjang, Pati

Jakarta sudah bersiap hadapi banjir sebelum terompet tahun baru 2014 ditiup. Tentu saja Pemerintah  Ibukota berupaya agar Jakarta tidak kebanjiran, apalagi Istana yang mulia harus bebas banjir.

Namun ada sebuah daerah yang mungkin kawan sekalian (mungkin) belum pernah mendengarnya, sebuah kejadian yang jauh dari paparan berita nasional karena tenggelam bersamA berita heboh penangkapan Anggoro Widjojo. Saya ingin berbagi cerita tentang banjir dari Jasmine Amelia di Jawa Tengah.

Begini ceritanya...

Selasa, 28 Januari 2014

Lari Sore!

Akhirnya saya mencoba lari. Gangguan paling kuat yang menyebabkan saya terjerumus mencoba berlalri adalah dari seorang senior. Legendanya beliau ketika munggah gunung sambil berlari. Bukankah sesuatu hal yang keren, berlari ketika mendaki gunung dengan ransel besar di punggung?

Saya mengamati beliau dari facebook tentang hobinya ini. Bahkan, konon kabarnya beliau berlari mendaki gunung hanya kutangan saja dan tidak berkemah. Istilah kerennya Trail Running. Gila! menurut saya.

Mencoba berlari dengan kemampuan yang saya punya. Mengelilingi kampung tempat saya tinggal. Menguras cairan dalam tubuh dan benar-benar memaksa otot-otot tubuh yang sangat kaku ini untuk berolahraga. Tapi tak apalah, tidak ada salahnya saya mencoba.

Menahan hawa nafsu untuk mundur dari niat dan mampir sebentar di warung makan adalah yang saya rasakan. Sampai saya bertemu bocah-bocah umur Sekolah Dasar berenang bebas di kali yang keruh. Saya berhenti dan mengambil beberapa foto. Seru juga melihat suasana itu seperti melihat saya beberapa tahun ke belakang, mandi di empang dan pulang di omeli Ibu karena sekujur tubuh kotor dan basah.

Rabu, 22 Januari 2014

Ke Semarang

Begini ceritanya...

Saya pergi menuju Semarang dari Jatinangor, Sumedang. Pilihan moda yang menurut saya mudah adalah Bus karena saya pergi tanpa persiapan --walau bukan berati tanpa niat hehe..

Ada banyak agen bus yang mudah ditemui di pertigaan cileunyi. Pengalaman saya, selama perjalanan Jatinangor-Semarang Bus tidak "angkut" penumpang berdiri. Nyaman. Saya berangkat malam dan sampai Semarang ketika matahari sudah muncul di atas cakrawala. Hujan di bulan Januari sudah biasa dan kebetulan sehingga saya bisa turun Bus di Pintu Tol Tembalang-Undip.

Berjalan menuju Jalan Ngesrep kemudian tujuan saya adalah mengisi perut yang lapar karena perjalanan dan ditambah oleh dinginnya Tembalang oleh hujan di pagi hari. Pilihan saya adalah Kedai Bubur Ayam Pak Brewok yang memang sudah terkenal enak sejak jaman kuliah dulu. Kebetulan Lokasinya tidak jauh dari saya turun Bus.

Senin, 20 Januari 2014

Lobang Tambang Mbah Soero

Jadi Begini... 
Keliling-keliling silaturahmi-tak-terlihat di beberapa blog sungguh menarik. Membaca beberapa catatan perjalanan mereka seperti menghisap saya masuk kedalam ceritanya. Aih.. Keren! Karena itu saya mencoba menulis di blog ini. Hanya saja sampai saat ini menulis saya masih belum percaya diri FULL. Indikatornya: saya malas baca-baca lagi tulisan-tulisan saya.. haha (kebayang orang lain yang baca tulisan saya).

Saya menulis karena pengen aja. Share dan sebenernya berlatih agar saya gak kagok menulis thesis kelak :)


Baiklah.

Ceritanya saya pernah mengunjungi Museum Lobang Tambang Mbah Soero.
Lobang Tambang Mbah Soero merupakan sebuah lorong bawah tanah yang berada tepat di bawah perkampungan penduduk. Lobang Tambang Mbah Soero memiliki lorong-lorong yang panjang diawali dari Kelurahan Tanah Lapang hingga ke kantor DPRD. Artinya, lorong Lubang Tambang Mbah Soero ini mencapai 1,5 km dengan kemiringan hampir 20 derajat. 

Penambangan batu bara di Lobang Mbah Soero ini merupakan titik awal penambangan terbuka di Kota Sawahlunto. Pembukaaan Lobang Mbah Soero dilakukan sejak tahun 1891 sedangkan proses pembangunannya dilakukan pada tahun 1898.

Senin, 13 Januari 2014

Kumaha Aing!

Jadi begini..

Saya sadar kalo saya pemalu. Label "pendiem" sudah biasa disematkan kepada saya. Padahal saya itu pemerhati yang baik loh. haha

Sulit pula untuk ikut "masuk" dalam obrolan kawan-kawan baru. Tapi, saya mencoba untuk tidak terlalu kaku dan mencoba pula berbagi cerita yang saya punya. Walo kadang masih ada perasaan canggung ketika saya memulai bercerita terutama ketika beberapa pasang mata mulai memperhatikan saya. Kadang membuat cerita saya mulai menari poco-poco gak karuan.

Saat ini saya sedang senang bercerita dengan foto. Lebih aman. Saya biarkan saja orang melihat dan menilai foto saya seperti apa. Nah! Masalahnya... Ketika mulai banyak yang kasih komentar, saya masuk kedalam dua dunia:
pertama--> gatal menekan rana, share di socmed. semangat dan happy.
kedua--> saya gemeteran untuk menekan layar sentuh ponsel sambil memikirkan balasan komentar seperti apa yang harus saya berikan haha..

Intinya saya senenang mengambil gambar dengan ponsel saya saat ini kemudian berbagi foto tersebut di akun Instagram saya. Kemudian saya teringat kata-kata Feri Latif salah seorang PhotoJurnalis Kompas: Kamera Aing! Kumaha Aing!

Berikut beberapa foto saya.
Selamat menikmati.
Salam.


Bandung!